berlawan

Arus Mimpi Perkotaan di Negara Bekas Jajahan

Posted on 10:33 PM by Blog Proletar

Karier, gaji, dan masa depan. Bagaimanakah di tengah arus krisis yang menyapu isi 1 negeri ini dapat diterima akal maupun budi dan bahasa tentang adanya suatu karier dengan gaji yang dapat menghidupi masa depan ? Kisah seperti apakah yang dapat disusun untuk menyampaikan kabar perasaan orang yang dari saat ke saat terus terhimpit dalam hidup kesehariannya namun sekaligus juga dipacu untuk mau percaya bahwa karier dan masa depan ada dalam genggaman ?

Segenap cara bercerita berikut konseptualisasi ide yang di masa sebelum krisis menerjang dapat diyakini untuk menentramkan hidup bermasyarakat kini rontok; baik pelembagaan bernegara, berbangsa, berkeluarga, beragama, bersekolah, berkesenian,... amblas disapu angin, hilang
otoritasnya. Maka yang tinggal adalah igauan, gossip, ceracauan, ramalan, dan bisik-bisik. Dalam arus itulah mimpi mendapat tempatnya. Inilah cerita tentang mimpi.

Yang Diimpikan

Tersebutlah di selembar halaman majalah remaja pria tahun 2001 bahwa ada 3 cara untuk mengawali sukses sebagai sutradara. Pertama, masuk sekolah film. Kedua, langsung jadi sutradara. Atau terakhir, meniti karir dari awal. Untuk yang paling bontot ini ada langkahnya, sejak dari asisten sutradara, penulis skenario, atau director of photography.

Kiat sukses berkarir begituan dapat dengan gampang dijumpai di bacaan-bacaan untuk orang muda yang diterbitkan dari Jakarta, setidaknya sejak dekade 1990-an yang lalu.

Bayangan akan sukses itu juga dapat dilacak dari sepenggal kisah debut seorang penyanyi berusia 15 tahun yang dalam sebuah edisi majalah remaja putri di bulan Pebruari 2002 diceritakan “baru aja ngerilis album terbarunya” dan berujar, ”Nyanyi itu adalah sesuatu yang paling berarti dalam hidupku.....Dari kecil, aku memang udah pengen banget jadi penyanyi. Percaya nggak, waktu masih kelas 1 SD aku pengen banget kayak Eno Lerian, bisa masuk TV, dan nyanyi di depan orang.....Mmm, insya Allah kalau aku dikasih kesempatan aku pengen banget belajar di London, soalnya kan sekolah seni di London itu terkenal bagus banget”.

Orang muda lain dipaparkan dalam liputan utama tentang “pasar remaja” oleh sebuah majalah bisnis edisi akhir tahun 2000 sebagai seorang pelajar kelas III SMU dari jurusan IPA yang termasuk 10 besar di kelasnya. Diceritakan, sejak kecil cowok Jakarta kelahiran tahun 1983 yang –konon- punya IQ 146 ini menyukai semua pelajaran berhitung. Maka, ia pun bertekad masuk kelas IPA saat SMU. Selanjutnya selepas sekolah menengah nanti ia ingin sekali kuliah di Fakultas Teknik Kimia ITB. Untuk itu doi rela mengurangi kegiatan keluar rumah biar bisa
drilling pelajaran buat persiapan EBTA dan UMPTN di waktu favoritnya untuk belajar ......sejak jam 3 pagi !
Pemandangan yang tak jauh berbeda terjadi di kalangan yang disebut ‘profesional muda’. Idam-idaman kaum berdasi ini ternyata adalah “perusahaan yang menyediakan jenjang karier jelas, gaji tinggi, memberi kesempatan belajar dan dikelola secara profesional”. Setidaknya begitulah yang dilaporkan oleh sebuah majalah ekonomi dari Jakarta pada edisi Oktober tahun 2001. Ada 12 jago di puncak idam-idaman itu, terdiri dari 5 BUMN, 5 perusahaan multinasional, dan 2 swasta nasional:“Karier jelas, Gaji Besar, Masa Depan OK. (1) PT Telkom; (2) Pertamina; (3) PT. Caltex Indonesia; (4) Bank BNI; (5) PT. Astra International; (6) Citibank (Indonesia); (7) PT Freeport Indonesia; (8) PT Unilever Indonesia; (9) PT Indosat; (10) PT Bakrie & Brothers; (11)
PT. Coca Cola Indonesia; (12) PT PLN”.

Bagaimanakah ragam profesi yang tak terbayangkan bahkan oleh kaum kohor kelahiran 1950-an itu dapat digambarkan suasana ‘perasaan’nya ?
Ia erat dengan ‘sekolah ke luar negeri’, atau ‘fasih berbahasa asing’, serta keakraban dengan perangkat komputasi. Buah teknologi, dari telepon genggam sampai kamera, diterima dan digauli sebagai perangkat netral yang seolah-olah lepas dari gelombang kritik teknokrasi di Eropa dan Amrik yang sudah memuncak pada tahun 1968.

Dalam arus yang seolah-olah netral tak bergejolak itulah film dan sandiwara menjadi ibarat paling gamblang tentang mimpi massal. Pemain film (kalau sebelum 1998 dikenal dengan istilah ‘insan perfilman’. Wuih …..insan ! ) adalah hal penting dalam jagad mimpi. Siapa bilang bintang film berakting di depan kamera ? Justru di depan kamera itulah praktek hidup kesehariannya
terjadi. Sedangkan ketika berada di rumah, di jalan, atau di mall si bintang itu sedang terus-menerus mencocokkan diri dengan yang dibayangkan dalam arus massal tentang suatu jagad ideal seorang public figure. Sejak dari menata tebal daging yang melekat di tulang-belulang tubuhnya sampai ke tentang betapa pentingnya siraman nilai agama untuk kehidupan rohaninya, semua dirancang dengan sepenuh perasaan. Keseriusan si bintang dalam mempersiapkan diri untuk tampil dalam relasi sosial tak kalah keras dengan
keseriusan si pelajar kelas III SMU ber-IQ 146 di atas yang sampai bangun jam 3 pagi untuk drilling agar bisa masuk ITB ! Dengan sepenuh perasaan entah itu drilling agar menjadi orang ITB, ataukah agar bisa menjadi orang Telkom, orang Freeport, atau dengan sekolah menyanyi di
London untuk berkarier di dunia bintang penyanyi, maupun berkarier di jalur teknologi informasi, desain pakaian, sampai aktivis LSM dst. dilakukan. Rancangan hidup dibikin dengan nalar perasaan. Bahkan kerja intelejensi pun tak lagi melulu berurusan dengan intellegence qoutient (alias IQ) melainkan sudah dengan nalar perasaan (yang sama sekali tak terbendung lagi dengan dikurung oleh label emotional quotient ataupun spiritual quotient).

Dan panggung sandiwara?
Masih bisakah dibedakan lagi dengan gampang naskah-naskah dan pementasan Teater Koma, Teater Gandrik, atau Teater Garasi dengan gejolak hidup berpolitik yang terjadi sehari-hari di luar ruang panggung sandiwara ? Politik menjadi panggung sandiwara, sementara sandiwara dilakoni sebagai politik mempertaruhkan makna hidup.
Yang Bermimpi Tak disangsikan lagi bahwa 1 lapis warga Republik Indonesia dari kohor kelahiran paska 1965 telah beranak-pinak sebagai ‘keluarga muda’. Anak-anak dari kalangan inilah yang lahir sejak dekade 1980-an hingga 1 dasawarsa sesudahnya disapih selaku warga
negeri mimpi dan sekaligus dihimpit dalam putaran roda ekonomi yang digerakkan oleh ‘hukum siluman’. Segenap imajinasi yang hidup dalam bawah sadar kolektifnya ketika menjadi bocah seperti dipicu saat mereka masuk ke alam remaja.

Dekade 1990-an adalah masa puncak pembusukan seluruh sendi bermasyarakat di Republik Indonesia. Segenap mimpi tentang ‘pemurnian praktek dasar negara dan konstitusi’ maupun tentang fase ‘tinggal landas’ yang diumbar sejak 20-an tahun sebelumnya menghadapi jalan buntu. Kolaps terjadi pada bulan Mei 1998, dan tidak cukup kuat ada pertanda bahwa struktur
pembusukan di tingkat negara maupun bangsa itu menemukan titik terangnya, hingga hari ini.

Paradoks paling fatal justru terjadi pada titik yang paling dipicu habis-habisan di seantero kehidupan negeri yakni hasrat untuk menjadi orang modern. Hasrat beginilah yang menjadi inti suatu ‘kultur kota’. Menjadi modern dengan seluruh atribut identitasnya pada kurun antara 1970 hingga 30 tahunan sesudahnya berarti menemukan diri sendiri berada dalam lingkungan yang penuh dengan impian akan rasa maju, bangga dengan kuantifikasi numerik, laju pertumbuhan, prestasi.
Wujud paradoks itu terus terjadi hingga kini tanpa tanda berhenti. Umpama, selalu diyakin-yakinkan betapa dengan banjir peralatan komunikasi bernama telepon dan komputer maka kesenjangan informasi bakal sirna. Namun yang terjadi justru banjir bandang perangkat komunikasi itu tak berkaitan sama sekali dengan keberadaan informasi, karena jalur komunikasi secanggih apapun malah menjadi ajang mengedarkan gossip. Manakala dimasukkan ke media massa maka yang menggerakkan pun tetap hukum besi dunia industri. Informasi dikalahkan oleh kalkulasi laba perolehan iklan.

Bersamaan dengan dikosongkannya informasi dari tubuh masyarakat itu, terjadi kebiadaban tanpa darah melalui pelembagaan sekolah. Jutaan anak sekolah di seluruh pelosok negeri seperti masuk ke dalam mesin cuci raksasa untuk dibina kesadaran kolektifnya. Otonomi masyarakat
setempat untuk melakukan pendidikan diambil alih oleh tangan panjang birokrasi persekolahan. Secara kognitif para pelajar itu dipenuhi hapalan-hapalan pengetahuan. Sementara pada saat yang sama nalurinya untuk berimajinasi dipancung menjadi paket-paket lomba dan kejuaraan.

Dua poros pengosongan makna inilah yang menyapih orang muda yang benaknya kini penuh dengan mimpi untuk menjadi web-designer, excecutive di MNC dan BUMN, artis film yang
juga sekolah filsafat,…

Ruang hampa inilah yang tidak terjadi ketika Tirtoadisuryo, Tjiptomangunkusumo, maupun Siti Soendari pada perempat pertama abad 20 sebagai orang muda semasa menggerakkan masyarakat melalui badan-badan ekonomi, dengan pendampingan legal, plus memproduksi informasi sendiri melalui media semacam Medan Prijaji. Pada jaman bergerak itu simbol modernisasi ditangkap dan dibalikkan untuk melakukan counter atas birokratisasi oleh gubernemen Hindia Belanda.

Kuasa Mimpi
Pertama, tentang mimpi. Dan mimpi pun yang terjadi secara massal. Ia sungguh-sungguh menembus batas. Entah batas warna kulit, entah berasal dari Jakarta Pusat atau Digul, entah
kendaraannya saban hari angkudes atau sedan pribadi, entah cowok, cewek, atau jiwa cowok dalam tubuh cewek dan kebalikannya, ….. semua sekat itu diterabas. Semua berpartisipasi dalam menyusun suatu mimpi besar. Berprestasi. Berkarier. Menjadi juara, pemenang, yang
terbaik, yang tercepat aksesnya, yang paling praktis,…

Otak dan jiwa jadi sangat sibuk, sementara tubuh jarang bergerak. Semakin aktif seseorang dalam dunia mimpi, semakin tubuhnya bergerak lepas dari aktivitas batinnya. Acapkali terjadi imajinasi melesat lebih cepat ketimbang gerak dengkul. Bahasa ungkapnya secara lisan menjadi
kedodoran. Yang diucapkan melalui bibir menjadi terpisah lepas dari yang mengalir deras dalam batin orang. Bahkan kosakata yang tersedia dalam bahasa yang diresmikan oleh pusat pembinaan bahasa pun menjadi tidak memadai lagi. Hiduplah plesetan di Jogja, walikan dari Malang, bahasa prokem, slang, dan yang dimediasi habis-habisan saban detik melalui televisi adalah bahasa Jakarta.
Hal kedua, bahkan untuk bermimpi pun butuh syarat. Siapa saja yang berani bermimpi untuk masuk ke dalam pusaran arus pasar tenaga kerja ‘terdidik’ tak bisa lain berhadapan dengan tuntutan syarat. Dua syarat pokok masuk ke alam mimpi massal ini ialah akses kembar ke
jalur manipulasi peralatan sektor jasa (ini namanya bisa sekolah, short-course, long distance learning, on the job training, sampai ke kursus dari kursus kepribadian sampai kursus bahasa) serta ke modal (bisa uang, bisa bakat bawaan, maupun relasi sosial). Tanpa akses, kewarganegaraan dalam jagad mimpi jadi cacat.
Oleh Primanto Nugroho
Newsletter KUNCI No. 12, Juni 2003

Apa pendapat anda untuk "Arus Mimpi Perkotaan di Negara Bekas Jajahan"

Silahkan tinggalkan Komentar..!!

Silahkan komentar yang sopan. dan saran buat perbaikan "blog proletar"

Cara Komentar:
1.Tulis Komentar Anda
2.Kemudian, Pilih Name/URL
Isi Nama Anda dan URL blog/wesite/facebook Anda
Kalau URL g isi pun tidak apa - apa
3.Klik "continue"
4.Kirim.

Tidak ingin ketinggalan informasi?

Setiap ada artikel baru, otomatis diinformasi- kan ke email Anda. Ketik Alamat Email Anda Disini, GRATIS

Ikuti Blog Proletar di FACEBOOK : @Proletar

Entri Populer

 
Top
http://blogproletar.blogspot.com
The articles are copyrighted to Blog proletar | About me | Informasi Proletar
Site Meter