berlawan

Gerakan Mahasiswa, Dari Cordoba Hingga Tiananmen

Posted on 11:29 PM by Blog Proletar

Oleh: Adie Usman Musa[1]

Tentu, orang belum lupa peristiwa berdarah 12 tahun lalu: Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) Republik Rakyat China menumpas gerakan pro demokrasi di Lapangan Tiananmen dengan kejam. Pertumpahan darah tak dapat dihindari. Ribuan mahasiswa tewas dalam peristiwa monumental 4 Juni 1989 itu. Hari itu, justru menjadi ladang pertaruhan nyawa terakhir mereka dalam memperjuangkan perubahan sosial politik China. Sebuah gerakan monumental dengan korban yang sangat besar di pihak mahasiswa di penghujung abad ke 20.

Lalu, pemerintah komunis Beijing melakukan penangkapan terhadap sejumlah tokoh mahasiswa dan oposisi yang dianggap berperan dalam menggerakkan demonstrasi di China. Tersebutlah nama-nama seperti Wang Dan, Chai Ling, Wuer Kaixi, dan lain-lain. Tujuan gerakan demonstrasi mahasiswa China saat itu jelas, menggulingkan pemerintahan republik rakyat sosialis pimpinan Partai Komunis dan menggantikannya dengan republik borjuis model Barat. Di mata pemerintah Beijing, para tokoh mahasiswa tersebut adalah pemberontak, tapi di mata para pendukung gerakan pro demokrasi, mereka adalah simbol penegakan demokrasi yang memberikan inspirasi bagi gerakan mahasiswa dan kaum profesional kala itu.
Steven Mufson dalam International Herald Tribune (20/4/1998), menulis, aksi demonstrasi para mahasiswa pro demokrasi di Lapangan Tiananmen, menebarkan benih-benih reformasi politik liberal di Beijing. Kaum intelektual di Beijing, kini, mulai berani bicara antara lain soal perlunya penghormatan hak-hak individu, perlunya pemilihan umum secara langsung, dan mengecam pemerintah komunis. Bahkan, secara tak langsung, tumbuh kesadaran di kalangan partai politik, bahwa partai politik harus melakukan reformasi politik karena masyarakat China telah berubah dan perekonomian tumbuh semakin kompleks.

Fenomena politik di China yang begitu monumental melengkapi dinamika gerakan mahasiswa lain di banyak negara. Walaupun ia tak mampu menggulingkan rejim yang berkuasa, di sejumlah negara dunia ketiga, mahasiswa menjadi penyebab huru-hara politik secara langsung. Bahkan, dari waktu ke waktu, gerakan mereka sangat efektif dalam merangsang perubahan sosial, sampai runtuhya rejim-rejim otoriter di banyak negara, termasuk gerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 lalu.
***

Secara teoritis, literatur-literatur ilmu politik menjelaskan beberapa pandangan yang menjadi penyebab lahirnya sebuah gerakan yang mengarah pada perubahan sosial. Pandangan pertama menjelaskan bahwa gerakan sosial itu dilahirkan oleh kondisi yang memberikan kesempatan (political opportunity) bagi gerakan itu. Pemerintah yang moderat, misalnya, memberikan kesempatan yang lebih besar bagi timbulnya gerakan sosial ketimbang pemerintahan yang sangat otoriter. Kendala untuk membuat gerakan di negara yang represif lebih besar dibandingkan dengan negara yang demokrat. Sebuah pemerintahan negara yang berubah dari represif menjadi moderat terhadap oposisi, menurut pandangan ini, akan diwarnai oleh lahirnya berbagai gerakan sosial yang selama ini terpendam di bawah permukaan.

Pandangan kedua berpendapat bahwa gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, misalnya, dapat mengakibatkan kesenjangan ekonomi yang makin lebar untuk sementara antara yang kaya dan yang miskin. Perubahan ini dapat pula menyebabkan krisis identitas dan lunturnya nilai-nilai yang selama ini diagungkan. Perubahan ini akan menimbulkan gejolak di kalangan yang dirugikan dan kemudian meluas menjadi gerakan sosial. Pandangan ketiga beranggapan bahwa gerakan sosial adalah semata-mata masalah kemampuan (leadership capability) dari tokoh penggerak. Adalah sang tokoh penggerak yang mampu memberikan inspirasi, membuat jaringan, membangun organisasi, yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam gerakan tersebut.

Selain itu, dalam perubahan sosial itu, selalu ditemukan faktor-faktor penting yang menjadi pemicu lahirnya perubahan yang pada gilirannya menjadi realitas sosial baru. Perintis sains-sains sosial Islam, Dr. Ausaf Ali berpendapat bahwa faktor-faktor penting yang menjadi pemicu perubahan itu adalah: pertama, munculnya kritik terhadap realitas dan praktek sosial yang ada, yang dilakukan oleh mereka yang cenderung terhadap tatanan baru. Kedua, adanya paradigma baru nilai-nilai, norma dan sistem penjelas yang berbeda; dan ketiga, partisipasi sosial yang dipilih oleh mereka yang cenderung dengan tatanan baru tersebut dalam mentransformasikan masyarakatnya. Faktor-faktor penting tersebut dapat kita lihat dalam sejarah Renaisance di Eropa, lahirnya Marxisme dan Sosialisme di Eropa Timur, dan terutama sekali sejarah perjuangan nabi-nabi, serta berbagai perubahan sosial mutakhir yang melibatkan para mahasiswa.

Dalam setiap perubahan sosial politik di banyak negara, tidak serta merta mahasiswa kemudian terlibat sebagai pemain tunggal. Jadi, dimana posisi mahasiswa dalam setiap perubahan politik? Huntington (1991) dalam menjelaskan mekanisme transisi politik dari pemerintahan ortoriter ke demokratis mengajukan empat model perubahan politik. Pertama, model transformasi (transformation). Dalam hal ini, inisiatif demokratisasi berasal dari pemerintah. Pemerintahlah yang melakukan liberalisasi sistem politik. Biasanya model ini terjadi di negara yang pemerintahannya sangat kuat, sementara masyarakat sipilnya lemah. Transisi yang terjadi di Taiwan pada awal tahun 1990-an, ketika pemerintah Kuomintang menyelenggarakan pemilu yang demokratis kira-kira masuk dalam model ini.
Kedua, model replasi (replacement). Model ini terjadi ketika pemerintah yang berkuasa dipaksa untuk meletakkan kekuasaannya dan kemudian digantikan oleh kekuatan oposisi. Berbeda dengan model pertama di atas, model ini terjadi di negara yang pemerintahannya mulai lemah, sedangkan masyarakat sipilnya tubuh menjadi kuat. Rejim Marcos di Filipina yang dipaksa turun oleh rakyatnya dan kemudian digantikan oleh Cory Aquino merupakan contoh yang tepat untuk model ini.
Ketiga, model transplasi (transplacement). Model ini merupakan gabungan dari dua model yang sudah disebutkan di atas. Model ini terjadi karena pemerintah yang berkuasa masih kuat, sementara pihak oposisi belum terlalu solid untuk menjatuhkannya. Maka diupayakanlah berbagai proses negosiasi antara pihak pemerintah dan pihak oposisi tentang bagaimana langkah-langkah yang harus diambil bersama untuk mewujudkan sistem politik yang demokratis secara gradual. Lech Walesa di Polandia agaknya mempraktekkan model ini dengan cara melakukan negosiasi dengan pihak militer untuk mewujudkan demokratisasi.

Keempat, model intervensi (intervention). Model ini terjadi disebabkan oleh keterlibatan pihak eksternal yang turut campur. Contoh kasus yang paling tepat barangkali adalah intervensi angkatan perang AS terhadap pemerintahan Panama dengan tuduhan keterlibatan jaringan perdagangan obat bius. Intervensi akhirnya mendorong dilaksanakan pemilu yang demokratis.

Mengacu pada beberapa rumusan teoritis di atas, maka dinamika keterlibatan mahasiswa dalam setiap momen perubahan sosial politik sangat bervariasi. Untuk transisi demokrasi model Huntington, kecuali model keempat (intervensi), pola lainnya merupakan model yang membuka ruang partisipasi mahasiswa dalam perubahan politik di banyak negara.
***

Gerakan mahasiswa dunia sebenarnya sudah mempunyai akar tradisi yang sangat kuat dalam melakukan perubahan sosial. Tradisi itu memang berbeda-beda, tergantung pada kondisi subyektif dan kondisi obyektif yang melingkupi mahasiswa itu sendiri. Kondisi subyektif berupa dinamika internal mahasiswa seperti latar belakang sosial, ideologi dan idealisme yang terbangun. Sementara kondisi obyektif berupa keadaan sosial, politik dan ekonomi yang melingkupi proses gerakan. Umumnya, peran strategis mahasiswa akan menguat tatkala kedua kondisi ini secara signifikan dapat mendukung terjadinya momentum-momentum perubahan sosial politik.
Momentum awal gerakan mahasiswa telah dimulai di Argentina tahun 1918 dengan lahirnya Manifesto Cordoba. Mahasiswa Amerika Latin adalah penyumbang pertama langkah awal dalam gerakan aksi mahasiswa. Manifesto Cordoba adalah deklarasi hak mahasiswa yang pertama kalinya di dunia, dan sejak itu mahasiswa Amerika Latin memainkan peranan pentingnya yang militan dalam kehidupan politik di negaranya. Baik dalam dunia akademik maupun dunia politik, mahasiswa Amerika Latin memiliki tradisi yang panjang. Militansi ini sebagian disebabkan oleh sejarah gerakan reformasi pendidikan di universitas-universitas, sebagian lagi karena struktur sosial politik negara-negara Amerika Latin sendiri. Reformasi pendidikan universitas di Amerika Latin lahir dari Manifesto Cordoba, ketika mahasiswa Cordoba di Argentina mengeluarkan sebuah manifesto yang menuntut otonomi universitas dan keterlibatan mahasiswa dalam mengelola administrasi universitas, yang terkenal dengan kontrol bersama (cogobierno).

Untuk melengkapi manifesto Cordoba, pertemuan lanjutan dari serikat-serikat mahasiswa Argentina menambah tuntutan-tuntutan yang dianggap menjadi pokok-pokok gerakan reformasi, yakni pertama, kehadiran fakultatif (boleh memilih); kedua, penghapusan pembatasan agama tentang apa yang boleh dipikirkan dan siapa yang ditetapkan untuk bertugas di universitas; ketiga, bantuan keuangan mahasiswa; keempat, orientasi sosial universitas di tempat dia berdiri; dan kelima, demokratisasi sistem organisasional universitas.
Dalam tempo 20 tahun, tuntutan mahasiswa Argentina ini menyebar ke seluruh Amerika Latin. Di Peru tahun 1919; di Chili tahun 1920; Kolumbia tahun 1924; Paraguay tahun 1927; di Brazil dan Bolivia tahun 1928; Meksiko tahun 1929; dan Kostarika tahun 1930, dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Yang paling menggemparkan adalah apa yang dilakukan mahasiswa Venezuella. Mulai dari penggulingan diktator yang paling dibenci, Perrez Jimenez, tahun 1966. Mahasiswa berhasil mempertahankan otonomi universitas mereka sampai Desember 1966 ketika pasukan tank baja pemerintah menyerbu dan menguasai gedung-gedung kampus setelah terjadi pertempuran sengit. Demikian juga yang terjadi di negara-negara lainnya di Amerika Latin dalam upaya menggulingkan rezim dan mewujudkan perubahan sosial.
Pengalaman mahasiswa Amerika Latin ini menunjukkan bahwa tuntutan-tuntutan akademis dan aktivitas politik merupakan dua hal yang saling melengkapi, bukan dipertentangkan. Pengalaman mahasiswa China memperlihatkan sebuah sebuah usaha dalam demokratisasi radikal di universitas dan merepresentasikan model gerakan mahasiswa yang benar-benar berbeda. Tahun 1966, mahasiswa China secara dramatis masuk dalam kehidupan politik. Peran mereka dalam Revolusi Kebudayaan membuat mereka terkenal ke seluruh dunia. Revolusi Kebudayaan adalah sebuah gerakan dalam sejarah yang sangat kompleks. Ia mengkritik literatur-literatur individual dalam Universitas Peking, dimana banyak profesor dan stafnya kemudian yang menjadi obyek kekerasan mahasiswa. Mao Tse Tung, tokoh revolusioner China, memulai keterlibatan awalnya dalam politik melalui gerakan mahasiswa di Peking dan Changsa, dan salah satu pengalaman politiknya yang pertama adalah pemogokan mahasiswa dalam simpati dengan gerakan 4 Mei (demonstrasi menentang imperialis Jepang pada 4 Mei 1919).
Akar gerakan ini yang kemudian mewarnai proses dinamika perubahan politik mahasiswa tahun 1980-an, yang kemudian melahirkan gerakan besar-besaran menentang pemerintahan komunis China tahun 1989. Momentum ini memakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) korban mahasiswa di Lapangan Tiananmen.

Di Jepang, gerakan mahasiswa Jepang telah memainkan peranan historis dalan perspektif dunia di tahun 1960-an. Ketika hanya sedikit mahasiswa yang kuliah di universitas swasta, di universitas negeri mahasiswa jurusan politiklah yang paling radikal, karena mereka tidak pernah bermaksud masuk dalam dunia industri. Selama 20 tahun terakhir, fokus mahasiswa radikal adalah gerakan Zengakuren, sejak berakhirnya perang dunia kedua. Merekalah yang pertama mempelopori aksi massa revolusioner di negara industrialis, bertahun-tahun sebelum dicapai oleh Amerika dan Eropa. Mereka radikal dalam tujuan dan metode perjuangan, menunjukkan bentuk tanpa kompromi dan tidak konvensional dalam perjuangan. Mereka juga menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menjalin kontak yang efektif dengan kelas paling tertindas dalam masyarakat Jepang: buruh dan petani.
Gerakan mahasiswa Spanyol adalah satu-satunya di Eropa yang berhasil membangun kerjasama organisasional dengan kelas buruh/proletar yang militan. Kampanye mahasiswa untuk kebebasan berserikat meningkat menjadi isu politik yang lebih luas. Para buruh secara simultan memperjuangkan kebebasan berserikat. Februari 1967 di Madrid, mahasiswa berdemonstrasi secara khusus menuntut representasi buruh dalam komisi yang membahas undang-undang serikat buruh. Persatuan mahasiswa-buruh disahkan oleh tiga hari perlawanan nasional, 1-3 Mei 1968. Gelombang penangkapan terjadi setelah itu, rejim berhasil mencegah meluasnya gerakan dan bentrokan. Demikian juga dengan gerakan di Jerman, Italia dan Prancis yang memberikan arti khusus pada mahasiswa-mahasiswa di negara-negara Eropa lain yang masih terbelakang gerakan mahasiswanya, termasuk di Eropa Timur pada dekade awal 1990-an.
Hanya saja, selama beberapa dasawarsa sejak tahun 60-an, gerakan mahasiswa di Eropa mengalami penurunan, bahkan bisa dikatakan hampir hilang sejak kemenangan besar kapitalisme di benua ini. Kebangkitan kapitalisme ini juga yang kemudian melemahkan seluruh gerakan kiri yang kemudian berpengaruh pada dinamika gerakan mahasiswa di sana. Namun, bagaimanapun, gerakan mahasiswa di Eropa harus kita sadari muncul dari sebuah masyarakat yang kapitalis.

Sedangkan di Amerika Latin, yang harus diperhatikan adalah perkembangan era 80-an, yang ditandai dengan munculnya rejim-rejim hasil pemilu yang menjanjikan demokrasi dan perbaikan nasib rakyat. Setelah perjuangan merebut demokrasi dan meruntuhkan rejim militer di Amerika Latin, yang memakan banyak korban di kalangan rakyat dan mahasiswa di tahun 60-an, kita menyaksikan bagaimana pemerintah yang dihasilkan dalam proses perjuangan itu ternyata malah membuat kehidupan rakyat kebanyakan semakin melarat. Amerika Latin kemudian terperangkap dalam janji-janji perbaikan ekonomi oleh kekuatan kapitalisme di bawah komando lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Brasil dan Meksiko adalah contoh-contoh yang menunjukkan hal tersebut.

Kini, di akhir tahun 1990-an, gerakan mahasiswa yang paling berhasil adalah di Indonesia. Terlepas dari banyak faktor yang bermain, gerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 telah memberikan inspirasi bagi mahasiswa di negara otoriter lain. Tentu tak aneh jika ribuan mahasiswa di ibu kota Zimbabwe, Harare, teru-terusan berunjuk rasa mengkritik pemerintah pimpinan Presiden Robert Mugabe yang dituduh menerapkan kolusi, korupsi dan nepotisme. Tapi, tentu aneh, bila mereka meminta Presiden Mugabe meniru contoh yang baik yang ditunjukkan Presiden Suharto, yakni mengundurkan diri dari jabatannya. Demikian juga yang terjadi di Korea Selatan, Burma, dan Thailand, yang memiliki gerakan mahasiswa dengan dinamika tersendiri dalam proses perubahan sosial politik di sana.
***
Memang, secara teoritis, gerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia telah berperan dalam berbagai dinamika. Kondisi obyektif dan subyektif yang melingkupi gerakan mahasiswa itu kemudian menjadi faktor utama dalam keberhasilan mereka melakukah perubahan sosial politik di negaranya. Runtuhnya sebuah rezim tentu bukan parameter keberhasilan. Karena, seperti dikatakan Huntington, banyak pola yang mewarnai perubahan politik sebuah negara, yang merupakan transisi ke arah demokratisasi. Tapi, kita juga gamang melihat bagaimana mahasiswa Amerika Latin yang berhasil membangun pemerintahan demokratis justru terjebak dalam jerat-jerat imperialis yang justru menyengsarakan rakyat banyak. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan apa yang mereka perjuangkan.

Di masa-masa proses gerakan berlangsung begitu heroik, kita melihat bagaimana kemudian mahasiswa mendapat sambutan besar masyarakatnya. Namun, setelah perubahan terjadi, perlahan kita merasakan perubahan terhadap sikap aksi-aksi mahasiswa. Masa-masa menjadi pahlawan sudah usai bagi mahasiswa di masanya. Kini mereka harus menghadapi realitas baru: penegakan stabilitas supaya ekonomi bisa tumbuh dan investasi asing dapat masuk. Mahasiswa kemudian menjadi pesakitan, karena semua proses politik diambil alih kalangan oposisi yang membonceng mahasiswa, atau masuk bui karena gagal menjatuhkan rezim seperti tokoh-tokoh mahasiswa China yang terlibat aksi berdarah 4 Juni 1989.
Lantas, berhargakah nyawa ribuan mahasiswa China yang tewas di Lapangan Tiananmen? Entahlah! ***


Pustaka Pendukung
Mas’oed Mohtar, 1994, Negara, Kapital dan Demokrasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Uhlin Anders, 1998, Oposisi Berserak: Arus Deras Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia, Pustaka Mizan, Bandung
Blackburn Robin, 1969, Student Power: Ploblems, Diagnosis, Action, Penguin Books Ltd, England
Supartono Alex, 1998, Mahasiswa Bergerak: Belajar dari Perlawanan dan Perjuangan Internasional 1960-an, YLBHI, Jakarta
Majalah Tempo, 2000, 2001
Tempointeraktif.com, 2001
Kompas Online, 2001

[1] Adie Usman Musa adalah mantan Ketua Senat Mahasiswa UGM tahun 1998-1999, kini aktif di beberapa NGO nasional di Yogyakarta dan Jakarta. Disampaikan sebagai pengantar diskusi dalam Training Mediasi Politik oleh Partai Proletar Mahasiswa, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 9 Nopember 2001

16 Komentar untuk "Gerakan Mahasiswa, Dari Cordoba Hingga Tiananmen"

.
gravatar
STARBIO Plus Untuk Mengatasi Wc Mampet Says....

informasi yang sangat menarik dan bermanfaat nih gan
senang bisa berkunjung ke blog anda
terimakasih banyak

.
gravatar
Atasi Septiktank Mampet Tanpa Sedot Says....

senang bisa berkunjung ke bloga anda, infonya sangat mernarik dan bermanfaat
terimakasih, sukses terus

.
gravatar
Cara Melindungi Kulit Dar Radikal Bebas ( Antioksidan ) Says....

ijin nyimak gan info yg menarik dan bermanfaatnya
senang bisa berkunjung ke blog anda
terimakasih, sukses terus

.
gravatar
Cara Alami Mengatasi WC Mampet Says....

menarik sekali baca nya
jadi betah
terus update info info nyang lain nya
terimakasih

.
gravatar
Obat Alami WC mampet Says....

menarik dan penuh wawasan
terimakasih
ditunggu info yang lain nya

.
gravatar
Kaos Dakwah Says....

Wah, ternyata sejarahnya panjang juga. Kita jangan pernah merupakan sejarah karena bisa jadi peringatan dan jadi inspirasi

Silahkan tinggalkan Komentar..!!

Silahkan komentar yang sopan. dan saran buat perbaikan "blog proletar"

Cara Komentar:
1.Tulis Komentar Anda
2.Kemudian, Pilih Name/URL
Isi Nama Anda dan URL blog/wesite/facebook Anda
Kalau URL g isi pun tidak apa - apa
3.Klik "continue"
4.Kirim.

Tidak ingin ketinggalan informasi?

Setiap ada artikel baru, otomatis diinformasi- kan ke email Anda. Ketik Alamat Email Anda Disini, GRATIS

Ikuti Blog Proletar di FACEBOOK : @Proletar

Entri Populer

 
Top
http://blogproletar.blogspot.com
The articles are copyrighted to Blog proletar | About me | Informasi Proletar
Site Meter